Ini bukan pertama kalinya aku menangisinya, tapi ini pertama kalinya aku menangis karena keputusannya. Untuk keputusannya yang tiba-tiba akan serius terhadap kuliahnya. Untuk keputusannya yang akan menjagaku dari kejauhan. Dan untuk keputusannya yang secara tiba-tiba dan tak beralasan.
Berani-beraninya dia memberikan keputusan ini, lagi, keputusan yang sebenarnya sering dia lakukan sebelumnya tanpa berpikir ulang tentang 'kita'. Yah. Memang bukan hal baru lagi bila dia meninggalkanku, membiarkanku tersesat, dan aku tak kembali. Tapi dia siapa? Dia kira aku tak tahu jalan untuk kembali. Memang, dia adalah pangeran bekuda putih yang pernah membawakan aku cahaya dalam kegelapan, tapi aku juga bisa. Aku lebih bisa, harusnya. Mungkin untuk saat ini aku hanya bisa meratap, tapi bukan berarti dia bisa menguasaiku.
Ah, begitu bodohnya aku. Masih sempat-sempatnya dia memberikan senyuman itu disaat aku tak menginginkannya. [Mungkin] Aku tidak akan memberikannya kesempatan lagi padanya. Sudah terlalu banyak kesempatan sehingga timbul banyak alasan, seperti ini. Aku lelah dengan pembicaraan seperti ini, pembicaraan yang tidak menghasilkan apa-apa, cuma bikin capek hati, buang-buang waktu.
Dia menulis ini diatas kertas impianku, dan sekarang di dua sisi dari kertas itu adalah sama-sama menjadi impianku. Tapi ternyata semuanya omong kosong. Wow. Selamat ya berhasil membuat lelucon ini. Kau sukses besar.
Baiklah. Sudah saatnya aku melupakan semuanya. Untuk apa menyimpan sesuatu yang seharusnya dibuang dan untuk apa memikirkan sesuatu yang pantas diabaikan?
Aku berharap bahwa ujung jalan kita adalah sama
Saatnya untuk tidur.
Selamat malam untukmu.
Maret 15, 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar