Maret 29, 2012

Maret 15, 2012

lelucon dramatis

Ini bukan pertama kalinya aku menangisinya, tapi ini pertama kalinya aku menangis karena keputusannya. Untuk keputusannya yang tiba-tiba akan serius terhadap kuliahnya. Untuk keputusannya yang akan menjagaku dari kejauhan. Dan untuk keputusannya yang secara tiba-tiba dan tak beralasan.
Berani-beraninya dia memberikan keputusan ini, lagi, keputusan yang sebenarnya sering dia lakukan sebelumnya tanpa berpikir ulang tentang 'kita'. Yah. Memang bukan hal baru lagi bila dia meninggalkanku, membiarkanku tersesat, dan aku tak kembali. Tapi dia siapa? Dia kira aku tak tahu jalan untuk kembali. Memang, dia adalah pangeran bekuda putih yang pernah membawakan aku cahaya dalam kegelapan, tapi aku juga bisa. Aku lebih bisa, harusnya. Mungkin untuk saat ini aku hanya bisa meratap, tapi bukan berarti dia bisa menguasaiku.
Ah, begitu bodohnya aku. Masih sempat-sempatnya dia memberikan senyuman itu disaat aku tak menginginkannya. [Mungkin] Aku tidak akan memberikannya kesempatan lagi padanya. Sudah terlalu banyak kesempatan sehingga  timbul banyak alasan, seperti ini. Aku lelah dengan pembicaraan seperti ini, pembicaraan yang tidak menghasilkan apa-apa, cuma bikin capek hati, buang-buang waktu.
Dia menulis ini diatas kertas impianku, dan sekarang di dua sisi dari kertas itu adalah sama-sama menjadi impianku. Tapi ternyata semuanya omong kosong. Wow. Selamat ya berhasil membuat lelucon ini. Kau sukses besar.
Baiklah. Sudah saatnya aku melupakan semuanya. Untuk apa menyimpan sesuatu yang seharusnya dibuang dan untuk apa memikirkan sesuatu yang pantas diabaikan?

Aku berharap bahwa ujung jalan kita adalah sama

Saatnya untuk tidur.
Selamat malam untukmu.

Maret 04, 2012

tulang rusuk ini

ini adalah pembicaraan mengenai tulang rusuk. tulang rusuk apa? apakah sama seperti iga sapi bakar yang sering aku nikmati itu? tentu saja bukan. lalu apa? baik, aku akan ceritakan.
Akhir-akhir ini, entahlah, mengapa aku lebih sering menghabiskan waktuku untuk berdiskusi mengenai "tulang rusuk". Untunglah, ada beberapa temanku yang masih sabar mendengarkan dan memperhatikan obrolan tulang rusuk ini.
Well, tulang rusuk, apa yang terjadi dengan tulang rusukku? Tidak ada. Semuanya baik-baik saja, semoga. Lalu mengapa pembicaraan mengenai ini harus menjadi panjang? Mungkin karena inilah saatnya bagiku -saat bagi mereka juga- untuk menyadari bahwa tulang rusuk itu tidak akan tertukar, yang ada hanya Putri yang Tertukar :D. Gak jelas banget. Memang, karena aku juga masih belum begitu paham mengenai tulang rusuk itu, terutama tulang rusukku. Tulang rusuk seperti apa yang akan menjadi bagi tulang rusuk di tubuh ini? Entahlah, hanya DIA yang memiliki kuasa untuk itu semua. Harapannya sih, tentu saja, tulang rusukku nanti adalah seseorang yang membiarkanku untuk melengkapi bagian tulang rusuknya yang hilang, :)
Belum saatnya aku menemukan tulang rusukku. Aku tak mau gonta-ganti "tulang rusuk". Tak enak sekali rasanya.
Oke, entahlah bagaimana kelanjutan cerita tentang "tulang rusuk" ini,


to be continued..
© tikaaramissu 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis