Sepekan
berlalu semenjak peristiwa itu. 7 Mei 2013, satu hari sebelum ayahku genap berusia 48
tahun. Aku masih teringat jelas bagaimana peristiwa itu terjadi. Aku masih
ingat rencana kami -aku dan temanku- untuk menyaksikan pertandingan futsal yang
akhirnya menghasilkan kemenangan bagi tim futsal dari Fakultas Sains. Bahkan
aku juga masih sangat ingat akan rencanaku untuk tidur bersama Helmy, teman
kostku. Ternyata rencana-rencanaku itu tidak tersampaikan. Tuhan menggantinya
dengan rencana yang lebih besar.
Aku tidak akan mengulas mengenai kronologi dari peristiwa
tersebut. Jangankan mengulas, mengingatnya saja membuat kepalaku terasa berat. Aku hanya ingin mendeskripsikan tentang perasaanku, perasaan takutku. Kedengarannya berlebihan. Tapi ketakutan ini terus dan terus menerus ada hingga hari ke-tujuh ini. Aku tak tahu mengapa aku merasa harus berlindung, yang sebenarnya aku
sendiripun tak tahu aku ingin berlindung dari apa atau siapa. Ketakutan ini membuatku
kaku. Aku rasakan sendiri bagaimana takut ini menghalangi kegiatan-kegiatan
yang ingin aku lakukan. Takut ini membatasiku. Harusnya aku bisa melakukan berbagai rencana yang sudah aku tulis rapi dalam catatanku. Karaoke-an hingga 4 jam, nonton Iron Man, dan sederet agenda yang rupanya harus tertunda karena aku takluk oleh ketakutan yang tidak jelas ini. Dan sekarang aku rasakan, sudah tidak manusiawi lagi karena takut ini bercampur dengan kecemasan yang akhirnya keduanya tumbuh dan
berkembang secara subur sehingga membuatku semakin betah di kamar dan semakin
berkarat. Otomatis, kreativitasku sangat menurun karena hal ini. (Walaupun sesungguhnya aku tidak cukup kreatif)
Dalam hal ini memang aku hanya berbicara bagaimana menyikapi
sebuah keadaan, tapi ini benar-benar hal besar yang harus aku runtuhkan jika aku
ingin kembali memulai dan kemudian berkarya. Biarlah keinginan itu menjadi energi terbesar pemusnah
ketakutan yang seharusnya aku bisa temukan kata lain bernama “waspada”.
Untuk mengubah
suatu keadaan yang lebih baik atau setidaknya untuk kembali memulai sesuatu
yang sempat tertunda tidak hanya cukup dengan penguasaan teori-teori ataupun
konsepan saja. Dibutuhkan ekstra keberanian sehingga teori itu terwujud dalam
tindakan nyata. Tapi, bagaimana menumbuhkan keberanian untuk kembali memulai
itu? Sedangkan pikiran-pikiran negatif, kecemasan, terlebih ketakutan itu itu
hadir di saat aku baru saja memulai langkah pertamaku. Satu hal yang harus aku
camkan. Bukan aku saja yang merasa kesusahan dalam memulai langkah yang
pertama.
Yang terpenting adalah bagaimana aku bisa survive pada dan setelah langkah pertamaku. Langkah pertama itu langkah yang paling berat, namun juga yang paling menentukan. :)
Ada banyak teori yang mengungkapkan mengenai ketakutan dan keberanian untuk mengambil langkah pertama, namun terori-teori ideal itu berbenturan dengan kondisiku. Jadi, aku mengambil suatu formula sederhana dalam rangka untuk meneruskan penundaanku selama beberapa waktu ini. AYO MULAI! Ayo mulai melakukan meskipun ketar-ketir pada langkah pertamanya. AYO MULAI! Dan semoga ini bukan hanya sekedar formula untukku, namun bisa aku terapkan dalam praktiknya.
- karena bumi tidak tersusun dari bukit yang dipenuhi kerikil saja -
Dan sebagai penutup, terima kasih kepada teman-teman terbaik di sana. Kalian partner terSuper yang aku pernah aku miliki.
