Aku diterima menjadi bagian dari penyelenggara acara besar dalam kampus. Aku ditempatkan di bagian yang kebanyakan orang tidak memilihnya. Disana aku berkenalan dengan 11 anggota bagian. Tidak ada yang berkesan dalam perkenalan pertamaku itu. Mengapa? Karena memang ini bukan keinginanku. Aku ditempatkan. Aku tidak memilih. Ada seseorang yang berkata kepadaku, "Jika tidak sesuai dengan keinginanmu, maka keluarlah. Jangan membuat segalanya terpaksa." Aku memikirkan kata-kata itu. Tapi setelah bebrapa hari aku bersama dengan 11 orang itu ternyata bukan suatu keburukan masuk dalam bagian itu. Aku merasa sangat dihargai. Disana aku bisa berekspresi sesuai dengan karakterku, dan mereka menerimanya. Aku merasa aku sudah memenangkan divisi ini karena aku sudah berhasil mengambil sebagian yang berharga dari mereka. Mereka mempercayaiku. Hebat bukan?
Namun ternyata semua tidak berjalan mulus. Aku mulai menghadapi kesulitan dalam men-dekat-kan diri dengan orang-orang selain 11 orang itu. Aku heran, tidak seperti biasanya aku merasa susah dalam memulai suatu hubungan dengan orang baru. Aku melakukan kebiasaanku dalam memulai perkenalan dan berharap kami bisa manjadi kawan baik. Seperti biasa, dengan gayaku yang sok akrab aku memulai pembicaraan. Tapi mengapa seperti ada penolakan disana. Ada yang salah dengan caraku? Padahal untuk sebelumnya aku selalu mempraktikkan gaya ini, dan tidak pernah gagal.
Aku tidak mempedulikan hal ini -setidaknya untuk beberapa hari saja- karena aku akan mencoba hal lain untuk masuk dalam tim dan diterima mereka. Mereka duduk bersama, berbincang-bincang santai -sambil sesekali melemparkan guyonan satu sama lain-, dan mereka terlihat sangat akrab (walau bukan dengan teman satu divisinya). Pada saat itu keinginanku untuk menjadi sahabat bagi mereka memuncak. Aku bahagia dengan kebersamaan. Untuk itu aku bersikeras apapun caranya aku harus mendapatkan bagian dalam tempat itu, aku tidak dapat menahan diri sampai aku bisa diterima. Aku pun mulai melakukan cara keduaku, yaitu dengan cara tiba-tiba masuk dalam kumpulan orang-orang itu dan bertindak (sok) asyik. Baru saja aku akan memulai, wajah-wajah penolakan itu muncul dan menahan keinginanku untuk "nimbrung" dengan mereka. Aku ingin berteriak di hadapan mereka dan mengatakan "Hei bung, perhatikan aku dan mari kita berkawan!" ternyata hanya mampu aku teriakkan kepada diriku sendiri di dalam hati. Aku menangis setelah aku sampai di kamar kost. Aku bukannya sedih tidak mendapatkan bagian itu, namun aku sedih karena aku gagal untuk menciptakan kebersamaan baru.
Aku menjadi orang yang tidak diterima oleh sebagian orang karena mereka tidak cocok dengan gayaku, dengan caraku, dengan karakterku. Untuk sebagian orang memang sifatku ini menghibur, tapi untuk sisanya sifatku ini sangat mengganggu karena dinilai berisik dan mereka tidak percaya dengan kehebatanku.
Aku tidak tahu apakah perasaan ini hanya aku saja yang memiliki atau ada anggota lain dalam tim yang juga ikut berduka karena mereka agak tenggelam dengan orang yang sering 'disebut' itu? Mereka yang sering 'disebut' mungkin merasa memiliki daya dan kekuatan yang lebih dibanding orang-orang yang hanya menjadi pemberi applause bagi 'yang sering disebut' itu. Sampai pada akhirnya 'yang jarang disebut' itu bosan dan akhirnya menyerah karena berpikiran bahwa sebagus apapun kinerjaku toh mereka tidak akan melihat. Bukan untuk pamer, tapi lebih kepada keinginan untuk dihargai. Appaluse yang mereka berikan akan sangat berarti untuk kelanjutan kinerja orang-orang itu. Setidaknya dengan applause yang diberikan orang itu merasa bahwa mereka itu dianggap ada dan membuat mereka terpacu untuk meningkatkan kualitas kerja mereka hingga level maksimal. Jika mereka tidak diberikan penghargaan itu, mereka juga tidak 'disebut', tentu saja mereka akan semakin jauh dan akhirnya benar-benar tenggelam.
Yang lain juga ingin disebut, ingin menjadi pemeran utama dalam bagian itu. Orang itu menginginkan kesempatan. Orang itu ingin 'disebut'. Sekali lagi orang itu ingin 'DISEBUT'. Tetapi keinginan untuk menjadi yang paling unggul membuat mereka tidak mau kalah dengan orang itu. Untuk sekarang, tidak seharusnya mereka berkompetisi. Harusnya jiwa cooperative tertanam dalam jiwa mereka. Jika tidak, tentu saja akan berimbas buruk. Tidak hanya acara yang telah digagas megah itu tidak terlaksana dengan maksimal, namun juga si 'orang yang jarang disebut itu' akan benar-benar tenggelam
Juli 04, 2012
Langganan:
Komentar (Atom)